Antara Agama (din), Millah, Nihlah dan akhlaq falsafy

Pengertian Agama
 Secara bahasa, menurut al ‘Iraqi agama mempunya tiga arti yakni sesuatu yang agung karena orang yang mau beragama dirinya menjadi mulya dan juga berarti menyerahkan diri, karena orang yang beragama berserah diri penuh kepada Allah Swt. dan yang terakhir bermakna keras, karena agama bersifat tunduk dan patuh secara penuh.
 Adapun arti agama secara istilah adalah aturan Tuhan yang diberikan kepada manusia yang berakal dengan sukarela agar menjadi tuntunan dalam kehidupannya dan menjadi kebahagiaan setelah kehidupan dunia; akhirat. Pengertian ini yang sering dilontarkan oleh para ulama Islam. Para orientalis mempunyai pengertian tersendiri dalam mengartikan agama, diantaranya :
1. Sisrun dalam bukunya ‘Anil Qowanin (terj. Arab) yang mengartikan agama adalah hubungan antara manusia dengan Tuhan
2. Ab Syatil dalam bukunya Qonunul Insaniyyah (terj. Arab), agama adalah kumpulan kewajiban makhluq kepada kholiq yakni kewajiban manusia kepada Allah Swt., baik yang berkaitan dengan masyarakat maupun individu
3. Salfan biriseh dalam bukunya al Ilmu wal Diyanat (terj. Arab) mengatakan bahwa, agama adalah sisi idealis dalam kehidupan manusia.

Hubungan antara agama dan millah
 Sayyid al jurjani mengatakan bahwa kata agama dan millah mengandung satu arti namun dalam penggunaannya terjadi perbedaan. Aturan hidup yang ditaati sering dikatakan sebagai agama, sedang kumpulan dari aturan hidup dinamakan millah. Muhammad Farid Wadji berpendapat bahwa millah adalah aturan hidup, agama dan jalan hidup.
Kata millah dalam al Qur’an tidak pernah disandarkan pada Allah Swt. melainkan selalu disandarkan pada manusia. Kata ini berarti mengandung arti agama yang benar dan yang salah. Sebagaimana disebutkan dalam al Qur’an dalam surat al Baqoroh : 130, al Baqoroh : 135, Yusuf : 38, al A’raf : 88, Yusuf : 37, dan al Baqoroh : 120. Dari sini bisa diambil sebuah kesimpulan bahwa kata millah selalu mencakup agama baik agama yang diwahyukan maupun agama yang dibuat oleh manusia.

Antara agama dan nihlah
 Secara bahasa kata nihlah berarti pemberian tanpa ganti rugi. Kata nihlah disebutkan dalam al Qur’an hanya satu kali yakni dalam surat Annisa : 4. Kata ini dalam pemakaiannya tidak pernah disandarkan pada Allah Swt. melainkan selalu dipakai dalam hubungannya dengan manusia yakni berkaitan tentang pemberian mahar bagi seorang wanita.
 Dalam kamus filsafat, kata nihlah mengandung arti kumpulan manusia yang tergabung dalam satu aliran, maka kata nihlah sama dengan kata jama’ah atau firqoh. Atau kumpulan golongan sesat, maka kata nihlah sama dengan bid’ah.

Antara agama dan akhlaq falsafy
 Dalam pembahasan agama dan akhlaq menurut para filosof, ada tiga kategori yang menjadi titik perbedaan pandangan yakni yang berhungan dengan topik utama, sumber hukum dan pemahaman tentang pembalasan maupun macam-macamnya.
Topik utama tentang akhlaq menurut filsafat adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan perangai atau tingkah laku manusia, baik yang berhungan dengan masyarakat maupun individu. Akhlaq dalam filsafat tidak membahas hubungan seorang hamba dengan Tuhan. Adapun sesuatu yang berkenaan dengan hubungan manusia dengan Allah Swt. telah dibahas oleh agama dan ia tidak mengkaji tentang perangai manusia sama sekali baik dari sisi dekat maupun jauh.
Dari pendapat para filosof tentang agama maupun akhlaq dapat diketahui bahwa antara akhlaq dan agama tidak ada hubungan sama sekali. Namun jika melihat agama secara khusus, dalam hal ini Islam. Di dalamnya akan tentang aqidah, aturan hidup maupun akhlaq yang dikaji secara integral dan komprehensif. Baik hubungan manusia dengan dirinya maupun hubungannya dengan masyarakat, bahkan yang berkaitan dengan negara.
Sumber hukum akhlaq dalam kaca mata filsafat adalah manusia secara murni yang termanifestasi oleh akalnya. Namun ada yang mengatakan bersumber dari perasaan emosial bahkan ada yang berpendapat, sumber dari segala sumber hukum dalam akhlaq falsafy adalah masyarakat dan lazim dikenal ‘aqlu jama’i. Para fiosof memandang agama sebagai sesuatu yang agung dan semua hukum yang dilahirkannya berasal dari Tuhan. Manusia tidak berperan sama sekali didalamnya. Bahkan, menurut mereka, manusia dipaksa untuk tunduk dan patuh kepada seluruh aturan yang telah ditetapkan agama tanpa ada celah sedikitpun untuk memilih atau membantah.
Pendapat demikian jika didasarkan pada Islam, maka lebih tepat jika agama dikonotasikan sebagai mana yang dipahami oleh kaum jabariyyah. Islam selalu memberikan pilihan bagi penganutnya untuk melakukan sesuatu dan memberikan kebebasan. Jika ada perintah untuk melakukan sesuatu, Islam selalu memberikan alasan kenapa sesuatu itu mesti dikerjakan sebagaimana firman Allah Swt. dalam al Qur’an dalam surat Baqoroh : 282, al Ankabut : 45, Annisa : 85, al Jum’ah : 9.
Demikian sekelumit pengertian umum tentang agama, millah, nihlah maupun akhlaq falsafy. 

Belajar dari ombak

Alkisah,
di tengah SAMUDERA yang MAHA LUAS,
tampaklah Ombak Besar sedang Bergulung-gulung dengan
Suaranya yang Menggelegar,
tampak berSuka Ria Menikmati Kedahsyatan KEKUATANNYA,
seakan-akan menyatakan Keberadaan DIRINYA Yang BESAR
dan GAGAH PERKASA.

Sementara itu,
jauh di belakang Gelombang Ombak Besar, tampak sang Ombak Kecil Bersusah Payah Mengikuti.
Ia Terlihat LEMAH, Tertatih-tatih, Tak Berdaya dan Jauh Tersisih di Belakang.

Akhirnya,
Ombak Kecil Hanya Bisa MENYERAH dan MENGEKOR ke mana pun Ombak Besar Pergi.
Tetapi,
di Benaknya Selalu Muncul Pertanyaan,
Mengapa Dirinya Begitu LEBIH LEMAH dan TAK BERDAYA ?

Suatu kali,
Ombak Kecil Bermaksud Mengadu kepada Ombak Besar.
Sambil tertaih-tatih Ombak Kecil berteriak:
“Hai Ombak Besar, tunggu!”

Sayup-sayup suara Ombak Kecil didengar juga oleh Ombak Besar.
Lalu sang Ombak Besar sedikit Memperlambat Gerakannya dan
berputar-putar Mendekati Arah Datangnya Suara.

“Ada apa Sahabat?”
Jawab Ombak Besar dengan Suara MENGGELEGAR HEBAT.

“Aih, pelankan Suaramu.
Dengarlah, mengapa engkau Bisa Begitu Besar?
Begitu KUAT, GAGAH dan PERKASA ?
Sementara Diriku, ah..begitu Kecil, Lemah dan Tak Berdaya.
Apa sesungguhnya yang membuat Kita Begitu Berbeda,
wahai Ombak Besar?”

Ombak Besar pun menjawab,
“Sahabatku,
Kamu Menganggap Dirimu Sendiri Kecil dan Tidak Berdaya,
sementara kamu Menganggap Aku Begitu Hebat dan Luar Biasa,
Anggapanmu itu Muncul karena Kamu Belum Sadar
dan Belum Mengerti JATI DIRIMU YANG SEBENARNYA,
HAKIKAT DIRIMU SENDIRI”.

“Jati Diri?
Hakikat Diri?
Kalau Jati Diriku bukan Ombak Kecil, lalu Aku Ini Apa?” Tanya Ombak Kecil,
“Tolong jelaskan, aku Semakin Bingung dan Tidak Mengerti.”

Ombak Besar meneruskan,
“Memang di antara Kita Terasa Berbeda tetapi
sebenarnya Jati Diri Kita adalah SAMA,
Kamu Bukan Ombak Kecil,
Aku pun Juga Bukan Ombak Besar.

Ombak Besar dan Ombak Kecil adalah
SIFAT KITA yang SEMENTARA.

Jati Diri Kita Yang Sejati Sama,
Kita adalah Air.

Bila Kamu Menyadari Bahwa Kita Sama-sama AIR,
maka kamu Tidak Akan Menderita Lagi,
kamu adalah Air,
Setiap Waktu kamu Bisa Menikmati
menjadi Ombak Besar seperti aku, KUAT, GAGAH dan PERKASA.”

Mendengar kata-kata Bijak sang Ombak Besar,
Mendadak Timbul Kesadaran dalam Diri Ombak Kecil.
“Ya, benar, aku Bukan Ombak Kecil.
Jati Diriku adalah Air,
Tidak Perlu aku BERKECIL HATI dan MENDERITA.”

Dan,
sejak saat itu,
si Ombak Kecil pun MENYADARI dan MENEMUKAN
POTENSI DIRINYA yang MAHA DAHSYAT.

Dengan KETEKUNAN dan KEULETANNYA,
ia Berhasil Menemukan CARA-cara untuk Menjadikan
Dirinya Semakin BESAR, KUAT dan PERKASA,
sebagaimana Sahabatnya yang Dulu Dianggapnya Besar.

Akhirnya,
Mereka HIDUP BERSAMA Dalam KEHARMONISAN ALAM.
Ada Kalanya yang Satu Lebih Besar dan yang Lain Kecil.
Kadang yang Satu Lebih Kuat dan yang Lain Lemah.

Begitulah,
Mereka MENIKMATI Siklus KEHIDUPAN Dengan PENUH HIKMAT dan KESADARAN.

Sebagai MANUSIA,
SERING KALI Kita TERJEBAK Dalam KEBIMBANGAN
Akibat Situasi Sulit yang Kita Hadapi,
yang Sesungguhnya itu HANYAlah Pernak-pernik atau
Tahapan dalam PERJALANAN KEHIDUPAN.

Sering Kali kita MEMVONIS Keadaan itu
sebagai Suratan TAKDIR atau NASIB,
lalu Muncullah MITOS-mitos:
'AKU TIDAK BERUNTUNG',
'NASIBKU JELEK',
'AKU ORANG GAGAL',
dan
Lebih Parah Lagi Menganggap
kondisi tersebut sebagai bentuk “ke-TIDAK ADIL-an” TUHAN.

Dengan Memahami bahwa
JATI DIRI KITA adalah SAMA-SAMA MANUSIA,
Tidak Ada Alasan untuk Merasa Kecil dan
Kerdil Dibandingkan dengan Orang Lain.

Karena SESUNGGUHNYA KEBERHASILAN,
KESEJAHTERAAN dan KEBAHAGIAAN
BUKAN MONOPOLI ORANG-orang Tertentu,
jika Orang lain Bisa Berhasil,
KITA PUN Juga BISA BERHASIL !

KESADARAN tentang JATI DIRI
Bila TELAH MAMPU Kita TEMUKAN,
maka Di DALAM DIRI KITA Akan TIMBUL
DAYA DORONG dan SEMANGAT HIDUP
yang PENUH GAIRAH SEDAHSYAT
Ombak Besar di Samudera Nan Luas.

SIAP MENGHADAPI SETIAP TANTANGAN
dengan Mental yang Optimis Aktif,
dan SIAP MENGEMBANGKAN POTENSI Terbaik
Demi MENAPAKI PUNCAK TANGGA KEBERHASILAN.

“JATI DIRI KITA Adalah Sama-sama MANUSIA
Tidak Ada Alasan untuk
Merasa Kecil dan Kerdil Dibandingkan
dengan Orang lain."

Pepatah Bijak :

"Sesungguhnya,
TIDAK ADA SESUATU Yang Disebut NASIB,
itu Hanyalah Masalah KURANG BERLATIH ROHANI."

"JANGAN BIARKAN JATI DIRI MENYATU dengan PEKERJAAN Anda."

"KEGAGALAN atau KEBERHASILAN DUNIAWI BUKANLAH TUJUAN yang PENTING.
KADANG-kadang Kegagalan adalah Keberhasilan,
SEBALIKNYA Keberhasilan adalah Kegagalan.
Kita Harus MENILAINYA dengan MATA KEBIJAKSANAAN."
(Kamila Vyndarti)

Kemiripan dan kesamaan kisah Nabi Musa dan Nabi Yusuf 'Alaihimassalam

Ada kemiripan dan persamaan dalam kehidupan Beliau, diantaranya : 1.Keduanya dilepas dari pangkuan kedua orang tuanya sejak kecil, namun ayat-ayat al Qur'an yang menceritakan tentang kisah Nabi Yusuf selalu berhubungan dengan ayahnya dan tidak menyebutkan kehidupan ibunya. Adapun tentang kisah Nabi Musa, al Qur'an menceritakan kehidupan ibunya dan tidak menyebutkan ayah Beliau sama sekali. 
2. Banyak mengenai cerita tentang kehidupan keduanya yang keseluruhannya berjalan sesuai taqdir Allah Swt. secara langsung yang akal tidak ikut berperan. Nabi Musa dibunga ibunya ke laut dan Nabi Yusuf dibuang saudara-saudaranya ke dalam sumur, tetapi Nabi Yusuf telah diberitakan oleh Allah Swt. akan perbuatan saudara-saudaranya itu. Adapun tentang Nabi Musa, Allah Swt. telah memberi wahyu dan ilham kepada ibunya untuk membuang Beliau ke laut sebagaimana yang tertulis dalam surat al Qoshosh : 7.
3. Keduanya hidup dan dibesarkan dalam lngkungan istana kerajaan Mesir dan dianggap sebagai putra dari raja. Namun, yang mengasuh Nabi Yusuf adalah seorang menteri dari kerajaan yang bernama Aziz. Sebagai mana al Qur’an menceritakan dalam Surat Yusuf :21. Sedangkan yang mengasuh Nabi Musa adalah istri dari raja Mesir.
4. Keduanya tumbuh dan berkembang pada zaman kekufuran. Pada masa Nabi Yusuf , kemusyrikan dan kedhaliman telah merajarela. Begitu juga pada zaman Nabi Musa, kerusakan telah terjadi di bumi Mesir.
Maka dari itu, Allah Swt. menjaga keduanya untuk dari hal-hal yang menyesatkan. Keduanya tidak pernah bersujud pada berhala dan tidak pernah melakukan dosa dan kesalahan. Sebagaimana disebutkan dalam surat Yusuf : 22 dan Al Qoshosh : 14.
5. Kemegahan dan kemewahan menjadi hal yang biasa bagi Nabi Yusuf dan Nabi Musa pada masa mudanya karena keduanya dibesarkan dalam lingkungan kerajaan. Nabi Yusuf diangkat menjadi anak dari menteri dari kerajaan Mesir dan Nabi Musa menjadi salah satu anak dari Fir’aun.
Namun, keduanya juga mengalami nasib yang sama; harus kehilangan kemewahan yang telah mereka rasakan sejak kecil. Nabi Yusuf harus hidup di penjara dengan suasananya yang pengap, kekurangan pangan, dan bermacam cobaan setelah bermasalah dengan siti Zulaikha yang telah mengasuhnya. Sedangkan Nabi Musa harus rela keluar dari negeri yang membesarkannya setelah membunuh seorang Qibthi karena membela Bani Israil yang sedang bertikai. 
6. Keduanya sama-sama kehilangan indahnya hidup di kerajaan dengan segala kemegahannya kepada kemiskinan dan kefakiran. Nabi Yusuf rela meninggalkan ayah angkatnya dan masuk penjara demi menjaga kesuciannya. Nabi Musa pergi ke negeri yang jauh dari Mesir setelah memukul keturunan Qibthi yang menyebabkan kematiannya.
7. Dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Yusuf banyak membahas tentang perempuan. Namun, dalam cerita Nabi Yusuf, perempuan menjadi cobaan dalam kehidupannya. Cobaan itu berawal dari siti Zulaikha yang mengajaknya untuk berbuat zina dan beliau menolak ajakan itu, sehingga kabar itu menyebar dipenjuru kota Mesir. Banyak perempuan kerajaan yang membicarakan tentang kejadian ini, sehingga memaksa Nabi Yusuf untuk memilih hidup di penjara dari pada kemewahan kerajaan. Berbeda dengan Nabi Musa yang, Allah Swt. telah menjadikan perempuan sebagai anugerah dan rahmat. 

Ini dulu ya………


Masih banyak kesamaan dan kemiripan kisan dari kehidupan Nabi Musa dan Nabi Yusuf. dan semoga kita bisa mengambil Ibrah untuk hidup ini.